1 Juli 2011

Exploring Makau City Of Light #Day 4

Photo photo disini

Ini adalah lanjutan cerita tentang backpackeran KL-Makau-HK tempo hari. Di hari keempat ini, kami berlima meninggalkan HK untuk menuju Makau kembali. Di itenerary kami jadwal naik First Ferry semula adalah jam 11.00, namun karena suatu hal akhirnya molor jadi jam 12.30. Belajar dari pengalaman sebelumnya, sewaktu sarapan saya konsentrasi menghabiskan menu makan di KFC tanpa berbicara sedikitpun dan memakai strategi makan cepat and berhasil. Sehabis makan saya langsung minum 2 butir antimo (red-perjalanan sebelumnya saya mabok berat efek cuaca buruk dan sok sok-an ngga minum antimo). Ternyata reaksi obat begitu cepat, walhasil tidak sampai setengah jam saya mulai ngantuk berat, jadilah sepanjang jalan kaki dari KFC menuju MTR lanjut ke China Ferry Terminal agak sempoyongan.

Dari Stasiun MTR Tsim Sha Tsui kami jalan kaki menuju China Ferry Terminal, cukup mudah menemukan lokasinya karena dipintu keluar stasiun terdapat papan petunjuk. Karena jaraknya cukup dekat (500 meteran) akhirnya kami jalan kaki. Jangan bayangkan pelabuhannya seperi Muara Angke atau Merak, karena ternyata pelabuhannya terletak disebuah gedung bertingkat dan untuk menuju kesana kami harus naik lift terlebih dahulu. China Ferry Terminal ini sama sekali tak terlihat seperti pelabuhan malah mirip perkantoran. Tepat pukul 12.30 kami naik ferry yang terletak dibalik gedung. Perjalanan ditempuh dalam waktu satu jam, namun bagaimana ceritanya saya tidak tahu karena saya terlelap hingga ferry bersandar di Makau.

Tiba di Makau kami mendapatkan ratusan orang berderet deret untuk antri di imigrasi. Ada pengalaman tak menyenangkan disini, sepanjang saya mengantri orang dibelakang saya berisik dan dorong dorong mulu karena ingin buru buru. Hellooo menurut loe kalo situ dorong dorong dorong lekas selesai proses imigrasinya.....antri bo antriiii. Berulang ulang dia dorong, berulang ulang saya omelin dan dipelototin temen saya yang cowok tapi tetap dorong dorong. Akhirnya kami berlima berstrategi merapatkan barisan, pokoknya jangan sampai dia merangsek mendahului kita dan pas dia kelar urusan imigrasi dia keluar sambil ngomel ngomel lagi.....hahahaha rasakannn. Dari bahasanya waktu ngomong ama sodaranya sepertinya dia orang Korea.

Usai urusan imigrasi Aga dan Radit booking hotel untuk penginapan di KL, karena kami tidak mau lagi menginap di Cosmopolitan Hostel. Setelah berhasil kami buru buru menuju ke Airport untuk menitipkan tas. Setelah nego nego nego dengan bahasa tarsan, akhirnya supir taksi tersebut setuju untuk membawa kami berlima sekaligus. Pelu diingat sopir taksi di Makau ini kayak pembalap, jadi selalu berpegangan pada kursi kalo tidak mau terombang ambing. Di Bandara kami menitipkan carrier kami di fasilitas Left Luggage Bandara (saya lupa tarifnya, pokoknya murah). Dari Bandara kami naik Shuttle Bus (gratis) menuju Venetian Makau. Di Makau memang tersedia banyak shuttle bus untuk menuju lokasi lokasi casino (salah satu strategi untuk menarik wisatawan). Tak sampai 30 menit kami sampai di Venetian Makau, bangunannya sunggug wow, interiornya sungguh bikin mulut terperangah terutama Miniatur sungai di venesia lengkap dengan gondola serta nyanyian para pengayuh gondola. Bagian yang menarik lain adalah plafon bangunan yang mirip dengan langit, pada siang hari langit berwarna biru dan menjelang sore langitnyapun ikut berubah menjadi warna sunset.
Kami memutuskan untuk makan siang disini, walaupun cukup pusing untuk memilih menu makanan yang halal (dan saya rasa tak ada). Bermodal bismillah akhirnya saya memilih nasi steak ayam (jangan tanya tanya ya soal makanan :p). Kami takjub melihat porsi makanan orang orang disekitar foof court, porsinya sungguh besar melebihi porsi kuli. Sengaja memilih makan disini karena ingin menikmati makan siang dengan suasana eropa. Dari dulu kami memang suka bermimpi ingin duduk santai makan di kedai pinggir jalan disalah satu sudut eropa. That's why saya ngeces ngeces liat film The Tourist.

Selesai makan kami langsung menuju destinasi selanjutnya, yaitu Senado dan Saint Paul Ruin. Untuk mempersingkat waktu kami naik taksi, sebenarnya bisa gratis dengan naik shuttle bus Venetian Makau-Airport dilanjutkan dengan Aiport-Grand Lisboa dilanjutkan dengan jalan kaki. Dalam waktu kurang lebih 15 menit kami tiba di Senado, saat itu sudah hampir senja. Tanpa buang buang waktu kami jalan jalan di sekitar Saint Paul Ruin dan berfoto foto sepuasnya. Kami cukup beruntung waktu itu bunga bunganya sedang bermekaran dan karena sudah senja maka lampu lampu sudah dinyalakan. Sebelum pulang kami menyempatkan untuk mencicipi Egg Tart yang legendaris itu, rasanya memang sungguh lezat sekali.


 Photo dari Aga

Pukul 18.30 kami meninggalkan Saint Paul Ruin untuk menuju Senado. Kami begitu norak melihat view didepan kami, jalanan dan bangunan benar benar serasa di Eropa. Bahkan sewaktu menginjakkan kaki di Disneyland Resort saya dan Aga teman saya dengan noraknya loncat loncat saking senangnya (ndeso). Dari Senado kami berjalan kaki menuju Grand Lisboa, sebuah bangunan casino yang amat megah dan pantang untuk dilewatkan. Sebelum browsing browsing kami mengira tak banyak obyek wisata di Makau, ternyata oh ternyata obyek wisata dimalam hari sungguh lebih mempesona karena eh karena kami mulai tergila gila dengan arsitektur gedung casino dan lightingnya. Sayang seribu sayang pukul 8 malam kami sudah harus check-in di Airport untuk kembali ke KL.
Obyek wisata di Makau ini relatif cukup dekat dekat jaraknya, jadi lebih baik jika dinikmatin dengan jalan kaki. Selain itu jalan kaki juga untuk meminimalkan biaya transport. Setelah puas melihat dan motret sana sini akhirnya kami naik bus untuk menuju Airport. Halte terletak di seberang Grand Lisboa, untuk menuju bandara kami naik bus dengan jurusan Aeroporto (satu satunya huruf latin yang kami lihat), ongkosnya 4 HKD. Oh ya mata uang HKD bisa dipakai di Makau. Agak sedih karena belum puas mengeksplor kota Makau, karena pesawat tidak bisa menunggu dan kami harus kembali ke KL yang panas serta kembali ke tanah air. International Macau Airport terletak di tepi pantai, mirip mirip bandara di Bali. Perjalanan Makau-KL ditempuh dalam waktu 4 jam sehingga kami tiba di KL pada tengah malam.

Ada kejadian lucu ketika kami mendaratkan kaki di Terminal Low Cost KL ini, begitu menjejakan kaki bayangan dinegeri mimpi langsung musnah seketika begitu melihat betapa nggak bangetnya bandara low cost di KL. Selesai urusan imigrasi pun kami langsung membongkar kostum kami, jika semula berjaket dan baju rangkap rangkap maka disini cukup menganakan satu lapis saja itupun masih gerah.