Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan

1 Juli 2011

Exploring Makau City Of Light #Day 4

Photo photo disini

Ini adalah lanjutan cerita tentang backpackeran KL-Makau-HK tempo hari. Di hari keempat ini, kami berlima meninggalkan HK untuk menuju Makau kembali. Di itenerary kami jadwal naik First Ferry semula adalah jam 11.00, namun karena suatu hal akhirnya molor jadi jam 12.30. Belajar dari pengalaman sebelumnya, sewaktu sarapan saya konsentrasi menghabiskan menu makan di KFC tanpa berbicara sedikitpun dan memakai strategi makan cepat and berhasil. Sehabis makan saya langsung minum 2 butir antimo (red-perjalanan sebelumnya saya mabok berat efek cuaca buruk dan sok sok-an ngga minum antimo). Ternyata reaksi obat begitu cepat, walhasil tidak sampai setengah jam saya mulai ngantuk berat, jadilah sepanjang jalan kaki dari KFC menuju MTR lanjut ke China Ferry Terminal agak sempoyongan.

Dari Stasiun MTR Tsim Sha Tsui kami jalan kaki menuju China Ferry Terminal, cukup mudah menemukan lokasinya karena dipintu keluar stasiun terdapat papan petunjuk. Karena jaraknya cukup dekat (500 meteran) akhirnya kami jalan kaki. Jangan bayangkan pelabuhannya seperi Muara Angke atau Merak, karena ternyata pelabuhannya terletak disebuah gedung bertingkat dan untuk menuju kesana kami harus naik lift terlebih dahulu. China Ferry Terminal ini sama sekali tak terlihat seperti pelabuhan malah mirip perkantoran. Tepat pukul 12.30 kami naik ferry yang terletak dibalik gedung. Perjalanan ditempuh dalam waktu satu jam, namun bagaimana ceritanya saya tidak tahu karena saya terlelap hingga ferry bersandar di Makau.

Tiba di Makau kami mendapatkan ratusan orang berderet deret untuk antri di imigrasi. Ada pengalaman tak menyenangkan disini, sepanjang saya mengantri orang dibelakang saya berisik dan dorong dorong mulu karena ingin buru buru. Hellooo menurut loe kalo situ dorong dorong dorong lekas selesai proses imigrasinya.....antri bo antriiii. Berulang ulang dia dorong, berulang ulang saya omelin dan dipelototin temen saya yang cowok tapi tetap dorong dorong. Akhirnya kami berlima berstrategi merapatkan barisan, pokoknya jangan sampai dia merangsek mendahului kita dan pas dia kelar urusan imigrasi dia keluar sambil ngomel ngomel lagi.....hahahaha rasakannn. Dari bahasanya waktu ngomong ama sodaranya sepertinya dia orang Korea.

Usai urusan imigrasi Aga dan Radit booking hotel untuk penginapan di KL, karena kami tidak mau lagi menginap di Cosmopolitan Hostel. Setelah berhasil kami buru buru menuju ke Airport untuk menitipkan tas. Setelah nego nego nego dengan bahasa tarsan, akhirnya supir taksi tersebut setuju untuk membawa kami berlima sekaligus. Pelu diingat sopir taksi di Makau ini kayak pembalap, jadi selalu berpegangan pada kursi kalo tidak mau terombang ambing. Di Bandara kami menitipkan carrier kami di fasilitas Left Luggage Bandara (saya lupa tarifnya, pokoknya murah). Dari Bandara kami naik Shuttle Bus (gratis) menuju Venetian Makau. Di Makau memang tersedia banyak shuttle bus untuk menuju lokasi lokasi casino (salah satu strategi untuk menarik wisatawan). Tak sampai 30 menit kami sampai di Venetian Makau, bangunannya sunggug wow, interiornya sungguh bikin mulut terperangah terutama Miniatur sungai di venesia lengkap dengan gondola serta nyanyian para pengayuh gondola. Bagian yang menarik lain adalah plafon bangunan yang mirip dengan langit, pada siang hari langit berwarna biru dan menjelang sore langitnyapun ikut berubah menjadi warna sunset.
Kami memutuskan untuk makan siang disini, walaupun cukup pusing untuk memilih menu makanan yang halal (dan saya rasa tak ada). Bermodal bismillah akhirnya saya memilih nasi steak ayam (jangan tanya tanya ya soal makanan :p). Kami takjub melihat porsi makanan orang orang disekitar foof court, porsinya sungguh besar melebihi porsi kuli. Sengaja memilih makan disini karena ingin menikmati makan siang dengan suasana eropa. Dari dulu kami memang suka bermimpi ingin duduk santai makan di kedai pinggir jalan disalah satu sudut eropa. That's why saya ngeces ngeces liat film The Tourist.

Selesai makan kami langsung menuju destinasi selanjutnya, yaitu Senado dan Saint Paul Ruin. Untuk mempersingkat waktu kami naik taksi, sebenarnya bisa gratis dengan naik shuttle bus Venetian Makau-Airport dilanjutkan dengan Aiport-Grand Lisboa dilanjutkan dengan jalan kaki. Dalam waktu kurang lebih 15 menit kami tiba di Senado, saat itu sudah hampir senja. Tanpa buang buang waktu kami jalan jalan di sekitar Saint Paul Ruin dan berfoto foto sepuasnya. Kami cukup beruntung waktu itu bunga bunganya sedang bermekaran dan karena sudah senja maka lampu lampu sudah dinyalakan. Sebelum pulang kami menyempatkan untuk mencicipi Egg Tart yang legendaris itu, rasanya memang sungguh lezat sekali.


 Photo dari Aga

Pukul 18.30 kami meninggalkan Saint Paul Ruin untuk menuju Senado. Kami begitu norak melihat view didepan kami, jalanan dan bangunan benar benar serasa di Eropa. Bahkan sewaktu menginjakkan kaki di Disneyland Resort saya dan Aga teman saya dengan noraknya loncat loncat saking senangnya (ndeso). Dari Senado kami berjalan kaki menuju Grand Lisboa, sebuah bangunan casino yang amat megah dan pantang untuk dilewatkan. Sebelum browsing browsing kami mengira tak banyak obyek wisata di Makau, ternyata oh ternyata obyek wisata dimalam hari sungguh lebih mempesona karena eh karena kami mulai tergila gila dengan arsitektur gedung casino dan lightingnya. Sayang seribu sayang pukul 8 malam kami sudah harus check-in di Airport untuk kembali ke KL.
Obyek wisata di Makau ini relatif cukup dekat dekat jaraknya, jadi lebih baik jika dinikmatin dengan jalan kaki. Selain itu jalan kaki juga untuk meminimalkan biaya transport. Setelah puas melihat dan motret sana sini akhirnya kami naik bus untuk menuju Airport. Halte terletak di seberang Grand Lisboa, untuk menuju bandara kami naik bus dengan jurusan Aeroporto (satu satunya huruf latin yang kami lihat), ongkosnya 4 HKD. Oh ya mata uang HKD bisa dipakai di Makau. Agak sedih karena belum puas mengeksplor kota Makau, karena pesawat tidak bisa menunggu dan kami harus kembali ke KL yang panas serta kembali ke tanah air. International Macau Airport terletak di tepi pantai, mirip mirip bandara di Bali. Perjalanan Makau-KL ditempuh dalam waktu 4 jam sehingga kami tiba di KL pada tengah malam.

Ada kejadian lucu ketika kami mendaratkan kaki di Terminal Low Cost KL ini, begitu menjejakan kaki bayangan dinegeri mimpi langsung musnah seketika begitu melihat betapa nggak bangetnya bandara low cost di KL. Selesai urusan imigrasi pun kami langsung membongkar kostum kami, jika semula berjaket dan baju rangkap rangkap maka disini cukup menganakan satu lapis saja itupun masih gerah.

30 Juni 2011

Snorkling di Pulau Payung

Setelah kegiatan Gabung Mulung Tidung usai di hari pertama, maka hari kedua adalah hari bebas buat peserta. Ada yang leyeh leyeh dikamar saja karena kecapekan dihari pertama, ada yang main di jembatan cinta dan tidung kecil, dan kegiatan yang paling banyak dilakukan adalah Snorkling. Saya dan empat kawan sekamar menyewa kapal lengkap dengan peralatan snorkling dengan bapak Rudin, alhamdulillah harganya tetap normal meski kami hanya berlima. Many thanks buat Flo karena telah kenal baik dengan Pak Rudin, sehingga harga sewanya tidak mahal.
 Kami berlima dibawa oleh guide menuju pulau Payung, letaknya kurang lebih 30 menit dari Pulau Tidung. Pantai pulau ini memiliki perairan dangkal dan terumbu karang yang sangat indah. Terumbu karang amat bervariasi baik dari bentuk maupun warnanya, dan diantara terumbu karang tersebut nampak  ikan ikan bersliweran dengan gesitnya. Buat saya yang tidak bisa berenang, ketika bisa berenang diantara terumbu karang dan ikan ikan adalah sebuah pengalaman yang sangat luar biasa.


 
Photo Under Water, diambil dari Oshi Rini.

Merasakan sensasi menyentuh tanaman bawah laut, mengejar ikan, berusaha menyentuh ikan, menelan air asin dan juga menabrak karang karena terdampar di pantai yang terlalu dangkal adalah pengalaman yang tak terlupakan.

24 Mei 2011

Charity Event | Gabung Mulung Tidung

Apa yang terpikirkan oleh anda ketika menyebut Pulau Tidung, pastilah Pulau dengan pantai yang berwarna hijau jernih, Jembatan Cinta, dan  sepeda. Dalam pikiran saya tiga hal tersebut sangat identik dengan pulau ini. 

 Photo di atas diambil dari blog Artha

Namun seiring dengan bertambahnya jumlah wisatawan yang mengunjungi pulau ini, menjadikan pulau ini amat ramai pada waktu weekend. Imbas lain yang cukup menyebalkan adalah banyaknya sampah an organik yang bertebaran dari ujung pulau ke ujung pulau. Apakah semua itu disebabkan oleh kesadaran masayakat Tidung terhadap lingkungan, jawabannya salah besar. Masyarakat Tidung amat sadar terhadap kebersihan lingkungan, kemarin saya sempat berbincang dengan Pak Rudin pemilik kapal yang kami sewa untuk snorkling. Ternyata beliau salah satu tetua warga yang mengorganisir kebersihan lingkungan. Untuk kebersihan pulau, aparat pulau Tidung menggaji beberapa orang untuk membersihkan sampah di pulau ini. Dana untuk menggaji mereka  sebagian berasal dari subsidi penjualan tiket kapal Angke-Tidung. Jadi kalo banyak sampah aneh sepenuhnya bukanlah salah warga. Menurut yang saya lihat sampah sampah ini berasal dari tangan tangan wisatawan yang tak peduli lingkungan contohnya botol minuman, sedotan, plastik dan lain lain.



Lalu siapakah penyumbang sampah terbesar di Tidung ini. Perlu diketahui, sampah-sampah raksasa ini merupakan sampah kiriman dari Jakarta. Jadi begini penjelasannya. Kehidupan di pulau memang sangat lekat dengan yang namanya musim angin, dari sekian banyaknya musim angin, angin tenggara merupakan sumber dari timbunan sampah tersebut. Konon musim angin tenggara disebut juga musim sampah, bukan cuma ditepian pulau, disepanjang laut dari Jakarta menuju Kepulauan Seribu akan dipenuhi sampah-sampah anorganik yang datangnya konon dari spot-spot di Jakarta, seperti Manggarai dan sekitarnya.

So berdasarkan kenyataan tersebut diatas, Couch Surfing Indonesia mengadakan charity event Gabung Mulung Tidung. Misi utamanya tentu saja untuk membersihkan sampah sampah yang ada di Tidung. Total relawan yang bergabung kurang lebih 250 orang, selanjutnya peserta dibagi dalam 10 grup. Pesertanya mulai dari anak kecil hingga kakek kakek loh, ada warga lokal ada pula bule bule. Saya dan kawan saya berangkat pukul 04.30, kemudian naik Transjakarta jurusan PGC Cililitan-Pluit. Kami turun di Halte Grogol 1, kemudian kami melanjutkan dengan angkot merah No 15 dari terminal grogol menuju Muara Angke. Sesampainya di Angke kami menuju tempat registrasi untuk mengambil kaos dan perlengkapan untuk mulung. Sekitar pukul 07.30 WIB kapal kami mulai berlabuh, hampir dua jam perjalanan saya tertidur dan terbangun karena kaki saya  kena tampias hujan. Alhamdulillah ombak tidak besar walaupun sempat hujan. Kami landing di Tidung pukul 10.00 WIB. Sesampainya di dermaga kami dibagi lagi untuk tempat penginapan. 







Setelah istirahat, makan, dan ibadah kami berkumpul di dermaga untuk pengarahan. Setelah itu kami berkumpul dengan masing masing team, dan saya berada di team 8. Ternyata oh ternyata masing masing team diwajibkan untuk membuat yel yel, semula leader kami agak malas malasan namun karena team lain amat bersemangat membuat yel yel dengan hebohnya akhirnya kamipun membuat yel yel yang tak kalah hebohnya juga. Oh ya ternyata kru media (Trans TV) berada di team kami, asyikk semua kegiatan kami diliput. Pada akhirnya kegiatan team kami tayang di Liputan Siang Trans TV lohhh.....(maaf norak). 



Team kami mendapatkan area pesisir/sepanjang dermaga kapal kecil untuk dipungut sampahnya. Ketiga kami tiba  di dermaga, kami melongo....wowwww sampah (plastiknya) banyak sekali. Akhirnya sebagian besar team membersihkan sampah di samping dermaga dan sebagian lainnya membersihkan disekitar pesisir dan tempat parkir sepeda. Karena sampah begitu menggunung, dalam waktu sebentar kantong sampah kami langsung penuh. Karena tidak ada kantong sampah yang lain, akhirnya kami berhenti memulung sampah. Oh ya tahukah kalian benda ajaib apa saja yang kami temukan, benda ajaib tersebut antara lain k*ndom, pakaian dalam wanita ataupun pria, dan popok bayi. Setelah masing masing kantong penuh, kami membawa sampah tersebut ke TPA yang berada di pesisir ujung satunya. Walaupun jaraknya tidak terlalu jauh, tapi cukup melelahkan juga karena membawa beban sekantong penuh isi sampah basah. Sehabis membuang di TPA, kami bersantai ria di pesisir pantai untuk melepas penat dan juga menghirup udara segar. 







Karena team kami sudah menyelesaikan tugas sebelum waktunya, akhirnya kami membubarkan diri untuk kegiatan bebas hingga menjelang maghrib. Pada pukul 20.00 WIB kami berkumpul kembali di dermaga untuk makan malam bersama dan juga acara ramah tamah dengan penduduk sekitar beserta jajaran aparat setempat. Walaupun kurang efektif karena tidak dilakukan tiap hari, setidaknya kami telah melakukan tindakan nyata atas dasar kecintaan kami terhadap lingkungan. Menurut info yang saya dengar, akan ada kegiatan lanjutan mengenai Gabung Mulung Tidung ini, dalam upaya untuk menjaga pulau eksotis in tetap bersih. Kami kembali lagi ke Jakarta keesokan harinya pada pukul 15.00 WIB dengan kapal Pesona Alam.







19 Mei 2011

Cotton Shawl in Various Style

It's been a while from my last holiday. Felt so happy to have another trip with new friends and also new community. This time me and 250 people went to Pulau Tidung for Charity event Clean Up Tidung (Gabung Mulung Tidung). And this is me in many various style of cotton shawl.

8 April 2011

[Travelling] : Exploring Hongkong #Day 3

Di travelling hari ketiga kami menjelajah Hongkong, dari New Teritories, Lantau Island dan Hongkong Island. Meski tidak seluruhnya kami jelajahi, setidaknya kami telah menjejakkan kaki dibeberapa destinasi wisata Hongkong. Hal yang perlu dipersiapkan sebelum pergi ke Hongkong adalah hunting Obyek Wisata disana, kemudian mencari peta hongkong lengkap dengan nama nama jalan serta peta jalur transportasi atau searching via Google Map.


Setelah menetapkan obyek wisata yang akan dikunjungi, yang kami lakukan adalah mencari peta jalur transportasi setempat yaitu MTR. Setelah mencocokan lokasi obyek wisata dengan stasiun MTR terdekat kami membuat itenerary perjalanan hari itu. Mengingat obyek wisata yang akan kami kunjungi lebih banyak di HK Island dan Tsim ShaTsui maka kami memulai perjalanan kami dari Lantau Island, dilanjutkan ke HK Island kemudian sisa waktunya kami habiskan di sekitaran Tsim Sha Tsui/Kowloon. Selain itu juga banyak obyek wisata malam yang berada dikawasan tersebut.
Tarif MRT, Bus MTR serta Bus feeder bisa di download disini
MTR Bandara Disini


Untuk kemudahan pembayaran MTR kami menggunakan Octopus Card yang kami beli di stasiun yang pertama kali jumpai yaitu Stasiun Mongkok. Harga Octopus card untuk dewasa adalah 100 HKD ditambah Deposit sebesar 50 HKD, sehingga totalnya adalah 150 HKD. Selain untuk membayar MTR dan Bus, kartu ini juga bisa dipakai untuk membeli di Seven Eleven atau Restoran  fast food semacam KFC atau McCdonald. Untuk Deposit serta sisa Octopus card bisa direfund namun dipotong 3 HKD. Hati hati menyimpan Oktopus ini, jangan sampai hilang karena akan rugi sekali kalau sampai hilang, tips saya selalu simpan Octopus Card ini di tempat yang sama dan dibagian terluar kantong tas atau jaket. Kebetulan karena kemarin sedang musim dingin, maka saya menyimpannya di kantong terluar jaket saya. Oh ya perlu diketahui, orang orang Hongkong kalau berjalan sangat cepat sekali jadi mau tidak mau akhirnya kita juga menyesuaikan dengan mereka, bahkan ketika di travelator sekalipun mereka tetap berjalan cepat. Kemudian jika naik eskalator, sebaiknya selalu disisi kiri karena sisi kanan dipakai oleh mereka yang sedang terburu buru. Informasi seputar Octopus Card bisa di dapat disini

 
 Octopus card 


Hari itu kami keluar dari berangkat dari tempat penginapan Dragon Hostel, Mongkok sekitar pukul 9 pagi. Sebelum pergi kami sarapan di KFC yang letaknya dekat dengan hostel kami. Waktu itu saya memesan Soup Macaroni  plus teh panas. Sebenarnya saya suka sekali dengan Soup Macaroni, namun waktu itu saya sama sekali tidak nafsu makan akhirnya saya cuma makan sedikit dan karena saya tidak doyan daging ayamnya (rasanya aneh) saya berikan ke teman saya. Harga per porsi rata rata antara 20-28 HKD. Tips saya, jika sarapan fokuskan saja pada makanan yang ada, jangan banyak bicara atau melakukan aktifitas lain yang menghambat makanan masuk ke mulut. Nah dengan cara seperti itu, keesokan harinya saya bisa menghabiskan menu sarapan saya. Karena saya cuma makan sedikit akhirnya saya membeli roti di Seven Eleven harganya hampir sama di Indonesia berkisar antara 5-15 HKD.



Destinasi pertama kami adalah Disneyland, maka dari Stasiun Mongkok kami menuju Lay King ( Jalur merah), agak agak repot mencari jalur merah karena di stasiun ini juga terdapat jalur Hijau. Dari Lay King kami berpindah ke Jalur Orange menuju Sunny Bay. Dari Sunny Bay kami turun untuk ganti kereta khusus yang menuju Disneyland Resort, kereta sangat khas yaitu dengan jendela kepala Mickey Mouse. Dari Stasiun Mongkok hingga sampai Disneyland Resort ditempuh dengan waktui kurang lebih 30 menit.

                                                                                                 Stasiun di Disneyland Resort

                                                                            Tampak interior kereta Disneyland dan Stasiun Sunny Bay

                                                                                                                                                                                             Disneyland Resort

Kami tidak berlama lama disini, setelah puas menikmai suasana dan berfoto dia kami melanjutkan perjalanan lagi ke destinasi selanjutnya, yaitu menuju Hongkong Island ,The Peak. Dari Sunny Bay kami naik MTR jalur orange langsung menuju Central di HK Island. Dari Stasiun tersebut kami keluar menuju City Hall, untuk mengetahui dimana kami harus keluar kami selalu mengandalkan peta petunjuk arah yang berada di gerbang exit MTR. Informasi penunjuk arah sangat jelas, sehingga kami tidak tersesat dibuatnya. 


Untuk menuju The Peak kami harus menuju Lower Garden Terminus (Stasiun Tram). Untuk menuju Lower Garden Terminus ada dua cara yaitu dengan naik bus doube decker dengan nomor 15 C. Halte terletak disamping Taman City Hall.


Cara yang kedua adalah berjalan kaki melewati bukit kecil yang berada di seberang City Hall. Tak sengaja kami menemukan papan petunjuk menuju stasiun Tram tersebut, setelah dilihat lihat ternyata lokasinya cukup dekat hingga akhirnya kami memilih untuk berjalan kaki saja. Dimulai dari sini kondisi badan saya mulai ngedrop lagi (pasca insiden mabok laut di Ferry hari sebelumnya). Dengan sekuat tenaga dan mensugesti diri saya akhirnya sampai juga  di Lower Gadern Terminus.

Dari bayangan saya, sebelumnya saya kira Stasiun ini seperti stasiun stasiun kecil semacam Terminal Depok. Ternyata saya salah besar, ternyata stasiunnya terdapat di lantai dasar sebuag gedung (letaknya dibelakang foto diatas). Karena harga tanah di Hongkong amat mahal serta langka, sehingga fasilitas publik sepeti ini biasanya menyatu dengan gedung atau berada di bawah tanah gedung. Harga tiket return adalah 37 HKD. Informasi mengenai Tarif Peak Tram dan Lower Garden Terminus bisa dilihat disini





Jika ingin memotret view sepanjang perjalanan sebaiknya duduk di sisi kanan dan ketika kembali duduk disisi kiri. Jalur yang dilalui sangat curam kurang lebih 45 derajat. Waktu itu saya kurang begitu memperhatikan view diluar selain karena berkabut, kepala saya sudah mulai nyut nyut-an untuk menengok kebelakang saja rasanya sudah mual apalagi jika harus menengok kesana kemari. Yang saya lalukan sepanjang perjalanan (10-15 menit) tersebut adalah duduk diam saja. Oh ya di Lower Terminus Garden juga ditawarkan tiket paket Maddam Tussaude + Sky Terrace. Namun karena menimbang cuaca sedang berkabut kami membatalkan untuk paket Sky Terrace, pun dengan Museum Maddam Tussaude kami pun mengcancel juga, karena setelah membaca review yang pernah kesana kebanyakan tidak masuk juga, selain karena mahal ternyata bagian luar Museum juga selalu dipajang beberapa patung. Waktu itu yang dipajang adalah Pierce Brosnan dan Michelle Yeoh.


Dan beginilah suasana diluar The Peak tertutup oleh kabut yang pekat, waktu itu suhu kurang lebih 7 derajat, otak saya sudah mulai beku dan kata teman saya, bicara saya sudah mulai ngga jelas. Waktu itu saya memakai kaos rangkap 4, satu jaket kaos dan bagian terluar adalah jaket hijau tersebut, syall, kaos tangan, sepatu dengan kaos kaki rangkap dua. Walaupun sudah berlapis lapis dan memakai jilbab tetap saja otak saya mulai beku. Setelah dari Maddam Tussaude kami makan siang di Burger King, di kondisi normal kita bisa melihat view kota Hongkong dari sini. Menurut informasi senior saya yang tinggal di Hongkong, saat yang tepat untuk mengunjungi Hongkong adalah bulan Oktober dimana udara tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin dan langit biasanya cerah. Jika ingin berdingin dingin ria seperti kami maka kunjungi Hongkong di bulan Februari sama seperti kami dimana Hongkong sedang dalam masa puncak musim dingin.

Ada pemandangan konyol selama kami disini, saya melihat ada bule yang jogging hanya mengenakan kaos lengan pendek serta celana lari yang pendek. Bwahahaha sangat kontras dengan kondisi saya. Oh ya menurut teman saya Aga, ada dua cewek yang sedang makan Ice Cream di bangku taman *tepok jidat*.

Setelah puas menikmati The Peak kami memutuskan untuk turun, di Lower Garden Terminus ini kondisi saya sudah kepayahan sekali, sudah kayak orang bego (jalan jalan dengan konsidi tidak fit sungguh tidak mengenakkan). Padahal sewaktu di Burger King saya sudah minum Panadol. Untuk kembali menuku City Hall kami naik bus 15 C, halte terletak di pintu keluar Lower Terminus Garden. Tarifnya 4,5 HKD dan kami memakai Octopus Card kami. Dari Central kami menuju Stasiun Causeway Bay untuk menuju Time Square. Bagian paling konyol adalah, semula kami mengira Time Square itu seperti yang ada di New York namun ternyata disini adalah sebuah Mall Megah. Yang kami sukai juga adalah didepan Time Square ada bunga tulip yang ditanam dengan pola berbentuk hati.... it's was so beautifull.







Setelah puas mengunjungi Time Square kami masuk kemabali ke Stasiun Causeway Bay yang terletak di bawah tanah Gedung Time Square untuk menuju Stasiun Tsim Sha Tsui. Destinasi kami selanjutnya adalah Avenue Stars dan Simphony of Light. Dari Stasiun kami mengikuti papan petunjuk, lokasi Avenue Stars berada di belakang SOGO.





Sambil menunggu Simphony of Light dimulai yaitu pukul 20.00 kami hunting foto foto disekitaran Avenue Stars. Lokasi terbaik untuk menyaksikan Simphony Of Light adalah di depan Tugu Jam Avenue Stars. Karena waktu itu langit berkabut, pertunjukan laser yang berlangsung 15 menit tersebut tidak terlalu spektakuler seperti yang kami googling sebelumnya, namun tentu saja tidak membuat kami kecewa, kami selalu menikmati moment moment kami sepanjang travelling walaupun kadang ada satu dua hal yang mengganggu namun kami abaikan saja. Perjalanan ini merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan karena saya memiliki partner travelling yang menyenangkan. Perlu diingat selalu cari teman travelling yang asyik, karena perjalanan panjang sangat rentan dengan terjadi masalah yang walau sepele kadang bisa menggangu trip.

Dari Shimphony of Light kami menuju Stasiun Tsim Sha tsui untuk menuju Ladies Market yang terletak di dekat Stasiun Mongkok. Sebelumnya kami mencari makan malam terlebih dahulu. Karena teman saya ingin mecari kuliner khas Hongkong akhirnya kami berjalan asal menyusuri jalan demi jalan di sekitaran Kowloon.


Iseng iseng kami berbelok dan naik tangga yang berada di bawah ini, kami kira karena lokasinya berada di lorong seperti itu maka bakal ada tempat makan yang enak dan murah. Ternyata dugaan kami salah, ternyata tempat tersebut tongkrongan expatriat mirip mirip Kemang gitulah. Setelah melihat harga menu makanan kami langsung jiper. Wah ngga cocok nih ama kantong. Akhirnya kami memutuskan untuk keluar saja. 


Sepanjang perjalanan mencari tempat makan, saya melihat disamping kanan kiri terdapat banyak sekali Bridal Shop, sepertinya ini kawasan pertokoan perlengakapan pernikahan. Saya lupa berada dijalan apa.




Setelah berjalan kesana kemari akhirnya kami memutuskan untuk makan di Kedai Thailand, karena mencari aman saya memesan nasi goreng vegetarian saja. Nasi gorengnya lumayan enak dan porsinya sangat sangat besar. Disebelah kami ada mbak mbak yang makan Tom Yum dan makan lain dengan menu yang sangat besar, apadahal dia sendirian.

Sehabis makan semula kami memutuskan untuk naik MTR atau bus namun akhirnya kami lebih memilih untuk berjalan kaki menuju Ladiyanes Market. Perjalanan kami dimulai dari Austin Strett hingga Mongkok, kurang lebih kalo dihitung dari Anenue Stars kami berjalan lebih 2 Km. Namun sayang sesampai Ladies Market toko toko sudah mulai tutup, seperti yang saya baca Ladies Market benar benar surga belanja buat wanita. Banyak barang lucu, keren disini yang bisa didapatkan dengan harga miring. Namun karena dari awal sudah berniat untuk tidak belanja akhirnya saya cuma beli 3 kaos seharga 60 HKD untuk oleh oleh. Tips disini adalah tawarlah harga sesadis mungkin karena mereka juga menaikkan harga dengan sadis pula. Untuk penjual yang masih muda proses tawar menawar lebih enak, namun untuk penjual yang sudah tua tawar menawar tidaklah enak. Jika dia sudah malas dengan tawaran kita, dia akan cuek saja dan ngeloyor untuk melayani customer lain. Saya mengalami sendiri kejadian tersebut, waktu itu saya ingin membeli tas cewek warna merah, dia membuka harga di angka 250 HKD, begitu saya tawar 100 HKD dia langsung cuek bebek ngeloyor meninggalkan saya. 


Kesimpulan travelling hari ketiga ini sangat menyenangkan.